Archive for January, 2007

apa ya judulnya..baca aja

Wednesday, January 31st, 2007

Assalamualaikum Wr.Wb

Di Februari ini ganti tema ya, kalo kemaren tentang perjuangan dan pengorbanan, kini bercerita tentang qolbu dan keindahanya..tapi berhubung 3 minggu kedepan ana harus mengikuti pelatihan dari kantor jadi mungkin bulan ini “off” dari internet. Namun tetaplah saling nasehat-menasehati dalam menjalankan kebenaran dan menetapi kesabaran.

Masih ingat kan QS Al-Ashr

Tentang hati, perasaan, karakter, kepribadian manusia itu unik karena semua orang tidak ada yang sama. Tak satupun yang sama…sebenarnya banyak buku yang bisa dibaca, diantaranya ihya ulumudin, mata hati karangan imam ghozali, 60 sahabat rosulullah, roudlotul mukhiban karya ibnul jauzi, terbitannya tarbawi press, personality plus, dan masih banyak kali. Yah…. itupun kalo temen2 suka baca buku.

Ana sedikit bercerita ya

Hadis rosulullah, yang intinya hati manusia itu adalah raja, jika ia baik maka baik keseluruhan dan jika ia buruk maka diri kita juga ikut buruk. Masih ingat juga kan kisah pertengkaran antara hati dan akal, jadi ga usah ditulis. Penulis tertarik pada sebuah petanyaan dari seseorang, “ Datangnya cinta itu kan diluar kemampuan manusia, kalo aku bisa menolaknya tapi rasa itu hadir begitu aja, dan kalo udah hadir susah melupakannya.” Mendengar statement itu ana turut bersimpati, sayang…andai dia tahu asal muasal orang bisa jatuh cinta, dia ga akan begitu menderita karenanya. Sungguh ana tidak menyalahkan cinta dan tidak juga orang yang mencintai, semua itu hanya Allah dan orang yang menjalaninya yang tahu dan merekalah yang mempertanggungjawabkan cinta itu disisi-Nya, dan manusia tidak berhak menilai cinta itu….(rasanya dah tua ngomongin virus pink, mungkin bagi yang se-angkatan dengan ana dah basi materi ini)

Cinta itu fitrah manusia, siapa sih yang gak pernah jatuh cinta ato minimal simpati lah sama orang..(hayo ada yang bisa bilang tidak..?). benar ga kata-kata ana ini, bermula dari pandangan mata, saling memberi senyuman, kemudian bertegur sapa, saling berbagi cerita, maka tumbuhlah simpati..nah seterusnya teringat terus dan akhirnya jatuh cinta deh. Pernah dengar ada orang bisa mencintai orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya ? (jawab sejujurnya). Penulis ga bermaksud menggurui kok, semoga ini bermanfaat. Berinteraksi itu mau tidak mau memang terjadi tapi menjaganya tetap bersih itu butuh usaha. Maka bilamana telah tumbuh simpati pada seseorang perlulah anda waspada..”itu adalah sinyal anda mulai jatuh cinta” kembalilah pada Allah. Memang cinta itu fitrah dan diluar kemampuan manusia namun proses penjagaan diri lebih dini itu dalam alam sadar manusia. Dan bukan cinta itu yang dipertanggungjawabkan namun bagaimana menjalani cinta itulah yang diminta pertanggungjawaban.

Cintailah cinta yang halal, insya Allah berkah (sok tahu penulis yang satu ini). Ingat kan kata Rosulullah, “ jagalah pandangan mata karena pandangan itu adalah salah satu panah iblis”

ana berlindung pada Allah dari nasehat yang hanya diucapkan namun tidak dilakukan. Astagfirullah…

Wassalamualaikum Wr.Wb

no title…

Tuesday, January 30th, 2007

Bismillah…

Hari-hari ini ana males banget nulis, membaca juga. Lebih sering melihat dan mendengarkan orang lain bercerita. Ana mengambil ibrah dari hal itu, sangat banyak orang yang ingin didengarkan, sebegitu besar mereka butuh akan perhatian dan dianggap berarti. Masya Allah…ana harus banyak belajar untuk mendengarkan, dan ana bahagia walaupun ga bisa membantu secara langsung tapi setidaknya bisa mengurangi beban mereka. Mendengar mereka bercerita kadang membuat ana meneteskan air mata, kadang tersenyum tersipu-sipu, ada pula yang membuat tertawa. Indah ya hidup ini ketika melihat orang-orang disekeliling kita bersemangat menyambut kebaikan.

Lama…lama banget sejak ana turun gunung (dong ga maksud ana..???). hidup ditengah hiruk-pikuk glamornya dunia, rindu banget untuk kembali bersama saudara-saudaraku, mesti hanya sesaat. Ingin merasakan kedamaian dan keteduhan yang terpancar dari wajah mereka. Takut banget jika diri itu lebur dalam arus dunia

Ana temukan

surat

ini jeda2 kehidupan,

“belum tibakah masanya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka kepada peringatan Allah dan kebenaran yang turun. Dan janganlah mereka seperti ahli kitab sebelum mereka, lalu waktu menajdi panjang, hati mereka menjadi keras dan kebanyakan mereka adalah orang-orang itu menjadi fasik” (QS 57:16)

Dunia hanya melihat apa yang terlihat, namun ga bisa melihat dalamnya hati. Rabb..kuberlindung padamu dari tipuan dunia. Masih berapa lamakah waktu tersisa untukku, kuharap saat tiba saatnya aku kembali pada-Mu, Engkau ridlo padaku.

ketika cinta itu harus dibuktikan

Sunday, January 28th, 2007

Ketika cinta itu harus dibuktikan

Saat langkah kaki tiada menapak dibumi, kuatur gelombang asa. Kusambut panggilan untuk meniti jalan-Mu, sebagaimana sang pecinta merindu bersua

Ya Allah, Engkau tau kepada siapa cinta ini kutambatkan

Engkaupun tau kemana hati ini kugantungkan

Rabb..kumohon kekalkan cintanya

Ketika cinta itu harus dibuktikan

Maka Engkau yang menilai cinta itu

Hamba hanya ingin Engkau ridlo

Sungguh hanya ada satu cinta di dada ini

kan

kujaga agar ia tetap abadi

Rabb..jiwa ini tersayat pilu

Pedih Ya Allah

Saat dosa terpampang dihadapan-Mu

Kala diri ini begitu lelah berjuang

Sungguh, bukan karena ingin mengkhianati

Ampuni hamba…

Janji itu ‘

kan

senantiasa tersimpan ya…Rabb

Bantulah aku menwujudkannya

Catatan Harian Al-ukhti

Sunday, January 28th, 2007

Kali ini penulis menganggkat tulisan seorang ukhti (nama tersimpan di redaksi penulis). Semoga kisah ini bisa menjadi perenungan bagi kita bersama.

Dia berkisah :

Hari-hari, kulihat anak2 bermain dengan begitu gembira. Itu di negaraku, disisi lain kulihat tangisan anak2 bumi. Mereka menangis dan merintih kehilangan keluarga mereka, untuk penjajahan yang mereka rasakan. Hari-hari, kudengar kicau burung bernyanyian, suara riang gembira namun kudengar juga seru mesin dan senapan ditembakkan, suara-suara jeritan kehilangan dan pekikan takbir. Disatu sisi kubaca kisah-kisah yang begitu melenakan, kesenangan dan keceriaan. Namun juga kubaca kisah perjuangan saudaraku di belahan bumi yang lain.

Itu semua menyayat hatiku. Dan tahukah engkau yang jauh menyedihkan adalah ketika diri ini begitu lemah, sangat lemah. Rasa bersalah itu selalu menghinggapi relung hatiku yang membuatku malu dihadapan-Nya. Karena untuk berjuang menegakkan kebenaran tak kuasa kulakukan. Selalu ada tangis..karena diri ini merasa begitu lelah berjuang, karena diri ini menjadi futur. Aku hanya bisa membencinya dalam hati, namun tak kuasa menegakkannya dengan tangan. Taukah gimana rasanya?. Menjadi da’I adalah sinkronisasi antara yang dikatakan dengan yang diperbuat, bagaimana jika kamu harus mengajak orang lain berbuat sedang dirimu sendiri tidak sanggup melakukan.

Sering kali hanya bisa mematung melihat kemungkaran di depan mata, setiap kali mengajar liqo’an, rasanya gunung itu ditimpakan dikepalaku. Bagaimana kamu mengatakan apa yang kau sendiri tidak bisa tegakkan. Setiap kali merasa Allah melihat, pedih hati ini. Ingin rasanya diri ini bukan sesuatu yang ada, hingga tiada harus mempertanggungjawabkan disisi-Nya. Dunia ini serasa bukan lagi bumi tempatku berpijak. Rabb ampuni hamba, atas begitu lemahnya diri ini…sungguh hanya ridlo-Mu yang kuharap.

Seorang teman menghadiahiku nasehat dari Al-Quran : 4:110, 8:33, nuh : 10-12, hud : 3,52. Meskipun sedikit mengurangi rasa bersalah, namun rasa itu tetaplah melekat dihati. Namun kutahu tiada tempat mengadu, berlindung dan bergantung kecuali hanya pada-Nya…………..

Penulis tidak bisa berkomentar tentang ini. Hanya bisa berdoa untukmu wahai ukhti, semoga Allah mencintaimu, mengekalkan cintamu, meridloi setiap tapak hidupmu.

Sesungguhnya ana mencintaimu karena Allah. And it will  always be…always

Indahnya sya’bi

Friday, January 26th, 2007

Bagi yang sudah merasakan, tidak selamanya sya’bi itu berat kok.

Ada

begitu banyak keindahan didalamnya. Penulis merasakan perbedaan yang sangat, itulah fase pematangan diri.

Belajar dari temen-temen perjuangan. Subhanallah..mereka lebih banyak berbuat dan berbuat, tiada sempat berdebat. Tau kenapa? Begitu banyak urusan yang harus ditangani, waktu seharipun ga cukup 24 jam untuk menyelesaikan banyak hal. Begitu banyak binaan yang harus ditangani, kegiatan yang harus diselesaikan. Dan mereka kebanyakan sudah berkeluarga, kebanyang ga?, bagaimana mereka membagi waktunya untuk keluarga, dakwah dan kerjanya. Masya Allah..tiap saat ana melihat guratan kelelahan diwajah mereka, namun sungguh tiada sedikitpun mereka mengeluh. Selalu ada senyum yang tersembul dibalik beratnya beban yang harus mereka pikul. Ga sempet ada friksi internal, ga ada yang namanya masalah virus merah jambu, pertengkaran sesama aktivis nyaris tidak ada.

Sering banget kulihat mereka sedih karena begitu banyak lahan dakwah yang tidak tertangani karena jumlah orang yang terbatas. Kisah jaman dulu ternyata masih ada lho..seorang ummahat dengan  putra banyak, punya binaan buanyak kelompok, belum lagi majelis taklim yang dibina dan sering diminta ngisi pengajian. Seringkali merasa sedih dan terharu saat membina,

Seorang murrobi tidak hanya memberi tapi juga menerima, ada tempat saling berbagi ilmu.Ada cerita, ketika penulis diminta membina taklim ibu-ibu. Begitu banyak pertanyaan yang diluar kemampuan, tapi itu membuat penulis banyak belajar. Sering ditanya tentang masalah keluarga, anak dan kehidupan dimasyarakat. Harap maklum menulis yang satu ini masih awam dengan dunia diatas, jadi ya hanya sebatas teoritis karena penulis belum terjun lebih dalam. Dari cerita mereka banyak hikmah yang dapat dipetik, tentang kehidupan berkeluarga : ternyata ga seperti yang novel2 itu lho..yang bertabur bunga dan penuh cinta. Alhamdulillah Allah perkenankan penulis melihat lebih dekat sebelum menjalaninya (kalo ga di dunia ya..diakhirat insya Allah). Bahwa kehidupan berkeluarga itu adalah suatu tahapan dari perjuangan, bagaimana seseorang menjadi lebih produktif saat menikah,

kan

berkumpul 2 orang. Maka dijalan apa anda menikah?. Menjadi seorang istri, ibu, anggota masyarakat dan murobbi sekaligus, tidaklah mudah. So…buat temen2 yang dulunya pada heboh dengan pernikahan, marilah kita review ulang. Jika kalian melihat seperti yang ana lihat, sungguh pernikahan itu tidak untuk bersenang-senang, perlu persiapan yang matang, cinta..tidak seperti yang tergambar, cinta yang jauh beda (kata mereka yang udah nikah gitu, ana ga tau sih!) dll. Udah ya..ngomongin itu membuat ana pusing, dijalani aja kalo dah tiba saatnya, semoga Allah ridloi jalan yang ditempuh.

Untuk saudara-saudaraku yang akan melangkah, buat yang udah melangkah…selamat bekerja. Dakwah selalu terbentang dihadapan menunggu uluran tangan kita, tapi bukan mereka yang butuh tapi kita yang memerlukannya.

Dua Dunia

Friday, January 26th, 2007

Selamanya manusia tidak akan berdiri disatu tempat yang sama, dalam suatu masa pasti ada yang berubah. Entah diri kita ataupun sekitar kita. Tiba-tiba kita merasakan semuanya tiada seperti dulu. Yang dulunya bersama teman2 satu tingkat belajar bersama di bangku kuliah, kini satu persatu mereka lulus dan pulang kampung, ato kita yang lulus dan pulang ke kampung halaman.

Adakah yang berbeda..setiap orang memiliki kisah perjalanan yang tidak sama. Maka lihatlah kita hidup dimasa yang selalu berputar. Masih ingat saat awal-awal semester kita menjadi angkatan termuda dan tanpa terasa kini menjadi angkatan tertua, sampai-sampai perjalanan waktu itu tak terasa.

Ketika dikuliah penuh dengan idealisme dan semangat, bekerja giat dan belajar, mobile dan penuh mimpi. Itulah saat penguatan ideologi, saat kita belajar tentang kebenaran tanpa tendensi, perjuangan tanpa pamrih, bekerja tanpa balas jasa. Indah ya masa-masa itu.

Coba bandingkan ketika kita telah hidup di sya’bi, hidup dimasyarakat. Orang bilang hidup didunia nyata. Sering sekali idealisme harus terbentur kenyataan yang menyesakkan dada. Tidak selalu begitu sih, hanya kita melihat pemandangan yang berbeda dengan dakwah kampus. Kini dunia yang dihadapi begitu heterogen. Terkadang kita sendirian untuk memberi teladan. Kita menjadi sosok yang berbeda dari banyak segi, tampilan maupun tingkah laku, pribadi kita begitu mudah dikenali, bukan karena populer yah.. tapi karena kita berbeda dengan orang kebanyakan.

Saat itu ingat nasehat rosulullah, “pada suatu masa seorang muslim yang berjalan dalam kebenaran seperti memegang bara api. Jika dipertahankan tangan terbakar, jika dibuang bara terlepas.”

Teman, tulisan ini tidaklah untuk menakuti..tidak. karena dari kisah ini kita akan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Bahwa tiada selamanya kita dikampus. Itu jelas, mungkin jika saatnya tiba Allah hendak menguji kekuatan kita, kekuatan ruhiyah dan kesungguhan iman kita. Jika kehendak-Nya kita ditempatkan jauh dari saudara-saudara seperjuangan, kitalah yang harus menjadi pengawal perubahan.

Siapkanlah dengan persiapan yang sebaik-baiknya. Semoga Allah kekalkan keimanan kita selamanya. Keimanan yang bersih dari keraguan, amal yang murni karena-Nya, kesungguhan yang tiada mengenal kelemahan dan putus asa. Selamat berjuang saudaraku..semoga Allah berkahi perjalanan hidup kita, menetapkan kita dijalan-Nya selamanya dan mempersatukan kita di jannah-Nya. amiin

setangkai puisi

Thursday, January 25th, 2007

Hari ini ….bila ada bahagia…itulah warna kehidupan

Saat dimana ungkapan kesyukuran haruslah lebih besar dari rasa bahagia itu

Hari ini…bila ada sedih terukir..itu wajar

Karena saatnya kita diingatkan akan nikmat-Nya yang begitu besar

Hari demi hari yang terlewati bagaikan mengukir sebuah prasasti

Yang tercatat pasti dilembar kebaikan dan keburukan

Mengukirnya dalam hidup, tidaklah harus menciptakan karya monumental

Karena karya besar tidaklah berarti, bila tiada manfaat bagi kemaslahatan umat

Dan karya kecil, istimror, bermanfaat bagi umat adalah lebih baik

Cinta…tidaklah cukup dengan ucapan bibir

Karena sang malampun tidak pernah berucap cinta pada bulan yang setia menemani

Pun siang tak pernah meminta mentari yang rela berbagi sinar menerangi bumi

Bagitulah Rabb semesta alam…. Allah

Allah selalu bersama kita

Allah selalu menolong hamba yang menolong agama-Nya

Allah mengabulkan doa hamba-Nya yang ikhlas

Teruslah berjuang…sampai datang ketentuan-Nya. Menang atau syahid

                                                                                         By Mulyani Rahayu

kita diingatkan ketika…

Wednesday, January 24th, 2007

Kali ini, sejenak marilah kita melihat lebih dalam. Ini tentang kisah seorang sahabat rosulullah..orang yang tertarbiyah dibawah asuhan manusia yang mulia. Namun manusia, dia juga orang yang tiada lepas dari khilaf. Cerita ini tentang kelalaian, tentang taubatan nasuha, tentang kecintaan seorang hamba pada tuhannya

Pernah

kan

mendengar cerita tentang kaab bin malik, inilah kisahnya :….

Kaab bercerita, ketika aku tertinggal dari rosulullah saat perang tabuk, aku berada dalam kondisi kuat lebih dari sebelumnya. Jumlah kaum muslimin yang ikut perang tabuk amat banyak, karenanya orang2 yang membelot beranggapan bahwa ketidak ikutsertaannya dalam perang tersebut tidak akan terdeteksi kecuali bila Allah turunkan wahyu pada rosul-Nya.

Rosulullah telah berkemas-kemas dan kaum muslimin mengikutinya. akupun berniat mengikutinya dan bergegas pulang, tapi sampai rumah aku tidak melakukan apa2, sampaipun aku berbisik, “aku mampu melakukan itu semua dengan mudah bila aku mau.” Aku terus saja menunda-nunda keberangkatan hingga kaum muslimin semakin jauh dan peperangan terlewatkan olehku.

Selepas keberangkatan rosulullah, aku berjalan-jalan mengitari madinah. Alangkah sedihnya hatiku karena tak seorangpun yang kulihat kecuali orang yang dikenal kemunafikannya, atau orang yang lemah. Saat kabar kepulangan rosul sampai ditelingaku, kesedihan hadir mengusik jiwaku dan terlintaslah rencana untuk menghindarkan dari murka rosulullah, tapi aku sadar bahwa tiada keselamatan kecuali dengan kejujuran

Saat itu saad bertemu dengan rosul. Rosul berkata,”apa yang menyebabkanmu tertinggal?. Sungguh jika aku berargumen maka aku bisa terbebas dari murkamu, namun sungguh aku mengharapkan kesudahan yang baik. Demi Allah, tiada udzur pun untukku saat engkau perintahkan untuk berperang. Mendengar itu rosulullah berkata,” engkau telah berkata jujur, maka bangkitlah sampai Allah berikan keputusannya padamu.”

Rosulullah melarang kaum muslimin berbicara denganku, maka meekapun emnjauh dan berubah sikap terhadapku, hingga rasanya diriku dan  bumi telah berubah.seolah bumi yang kupijak ini bukan lagi dunia tempatku hidup.

Saat aku sholat dimasjid, tiada seorangpun menegurku bahkan rosulullahpun memalingkan mukanya padaku, saat aku memberi salam pada saudaraku mereka diam membisu, tak terasa air mataku bercucuran menaggung kesedihan. Keadaan itu berjalan selama 40 hari dan rosul memerintahkanku untuk menjauhi istriku, dan kulakukan perintah itu. Keadaan itu berlalu hingga 50 hari, kala sholat shubuh, begitu kurasakan bumi yang luas ini terasa sempit bagiku, bahkan akupun merasakan sesak didadaku…

Ketika aku dikemah, sahabatku menyampaikan berita gembira diterimanya taubatku.  Aku mendatangi rosul dan rosulullah menyambutku, maka saat itulah aku berikrar,” sebagai bukti taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur selama hayatku.”

Bacalah kisahnya dalam QS At-taubah : 117-119, 95-96)

Apa yang bisa diambil dari kisah itu saudaraku…

seorang hamba, tiadalah ia bersuka cita kala ia menyadari telah bersalah pada-Nya,

saat kelemahan dirinya membuat dia tidak melakukan perjuangan.

Dan sungguh bumi itu

kan

terasa sempit,

begitupun dada ini akan berasa sesak.

Maka tiadalah yang membuatnya bahagia kecuali ampunan dari tuhannya.

Dan sahabat perjuangan…

ia butuhkan untuk membuatnya tegar dan mengingatkan akan tujuan yang mulia

wallahu ‘alam bishowab

Perenungan seorang hamba

Monday, January 22nd, 2007

Ada

kalanya…tanpa kita sadari, kita semakin jauh dari Allah, kita begitu sibuk dengan urusan dunia..bahkanpun ketika kita sujudpun, tiada khusyuk dihadapan-Nya. Tapi tahukah engkau bahwa Allah selalu memperhatikan kita. Everytime

Ada

kalanya..tanpa kita sadari, kita membangun dinding antara diri dengan Allah dengan segala maksiat dan ketidaktaatan kita kepada-Nya padahal cahaya Allah itu begitu lembut. Bagaimana ia akan menembus hati yang tertutupi awan dan noda hitam

Ada

kalanya…kita merasa bahwa Allah begitu mencintai kita, hingga ita lupa untuk takut dan harap kepada-Nya. Bagaimana seorang hamba merasa dicintai Allah sedang dalam keseharian hidupnya sering melanggar larangan-Nya. Dan Allah melihat itu

Ada kalanya…kita mau meminta pertolongan Allah, tapi kita sandarkan ketawakalan kita pada makhluk-Nya. Mengapa masih tersisa keraguan dan kekhawatiran dalam hati kita

Adakalanya…kita begitu menginginkan sesuatu, kita usahakan dengan semua daya. Tapi kita lupa untuk meminta pada pemiliknya.

Rabb..bantulah kami untuk mengingati-mu..untuk mensyukuri nikmat-Mu dan menyandarkan segalanya hanya kepada-Mu. Sungguh jiwa ini hanya satu, dan ia dalam genggamanmu, sesungguhnya taqdir itu di tangan-Mu dan tiada kekuatan melainkan dari-Mu. Rabb…dengan segala keterbatasan ini karuniakanlah pada hamba kesetiaan pada-Mu selama hidup hamba, mencintai-Mu dan senantiasa berjuang dijalan-Mu hingga saat ajal menjelang. Ampuni hamba atas begitu banyak kelemahan dan kekurangan dalam menjalani amanah dari-Mu

tentang futur…

Sunday, January 21st, 2007

Baiklah tentang masalah yang satu ini kadangkala menerpa para aktivis dakwah.

Ada

kalanya pada suatu masa seseorang merasakan suatu kejenuhan yang sangat dengan aktivitas yang dilakoninya. Dengan bermacam-macam alasan yang melatarbelakanginya, namun ada beberapa indikasi yang mudah dibaca adalah menurunnya kualitas ibadah seseorang. Masalahnya bagi seorang aktivis kualitas ruhiyah itu sangat mempengaruhi kinerja dan keberkahan kerja yang dijalaninya, maklum kerjaan yang satu ini tidak hanya fisik namun berhubungan dengan hati. Dan ga semua orang nyadar kalo dirinya tuh lagi futur.

Pernah ga merasakan kekosongan dalam jiwa, saat beribadah ga membekas dalam jiwa, berat terasa beban itu saat menjalankan amanah, pancaran diwajah terlihat buram. Ga bahagia saat melakukan kebaikan ato pingin rasanya berhenti dalam melakukan kerja-kerja yang selama ini dijalani ato yang lebih parah males berangkat liqo’. Nah itu indikasi lagi futur…

Buat siapa aja deh yang sekarang ini lagi futur, jangan lama-lama ya. Ayo bersegeralah kembali pada ampunan tuhanmu yang luasnya seluas langit dan bumi. Sungguh Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang bosan. Nasehat ini buat kita semua termasuk penulis juga. Jikalah seseorang itu perlu dipaksa untuk berbuat baik, maka paksalah diri untuk tetap berada dalam kebaikan.

Kita diingatkan dengan ayat Allah

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja, padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad diantara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, rosul dan orang-orang yang beriman. Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. QS At-Taubah : 16

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. QS At-Taubah : 20

Duhai saudaraku… Allah tidak pernah meminta hasil dari perjuangan kita, maka tetaplah berjuang meskipun engkau sendirian. Meski tiada seorangpun disisimu untuk menegakkan langkahmu, meski begitu banyak orang yang menentang perjuanganmu, meski tiada seorangpun yang mendengar seruanmu. Jangan pernah berputus asa dan patah semangat..bukankah semuanya hanya untuk Allah. Sungguh hanya Allahlah yang akan memenangkan perjuangan ini.

Ketika rasa dalam dada begitu sesak dan beban itu terasa berat dan begitu menghimpit, kembalikanlah segalanya kepada Allah. Kuatkan diri dengan sabar dan sholat, ikhtiar dan bertawakallah..sesungguhnya Allah bersama mereka yang berjuang.