Malam ini begitu panjang terasa olehku. Tak terasa setahun berlalu sejak pernikahanku dengannya, seorang ikhwan yang tak kukenal sebelumnya. Mulai detik pertama hingga kini seakan aku masihlah seorang yang sendiri, bayangan indahnya pernikahan lenyap seiring dengan realita yang terjadi. Apakah aku bahagia? Pertanyaan yang sulit kujawab, karena siapa yang tidak akan bangga menikahi seorang aktivis dakwah yang muntij yang tidak pernah diragukan kualitas pribadi dan ruhiyahnya. Namun entah mengapa semuanya begitu hambar..aku lebih sering sendirian dalam mengerjakan banyak hal, single fighter. Dia, orang yang mendampingi keseharianku sehari-harinya bekerja hingga sore, meliqo’i, mengisi taklim, syuro dan kegiatan lain yang nyaris menyita waktunya. Bahkan pulang kelewat tengah malam setiap harinya. Aku merasa sendirian dan begitu kesepian. Rabb..salahkah hamba meminta sedikit perhatiannya, pada suamiku. Pernah suatu saat kutanyakan padanya. ”Apakah kau mencintaiku, mas” tapi bukan jawaban yang kudapat, dia hanya tersenyum tanpa berkata apapun.”salahkah aku menginginkan perhatianmu dan kebersamaan denganmu lebih dari yang lain.” dan diapun memandangku dengan tatapan yang sangat beku, maka keluarlah kata2nya yang begitu menusuk hatiku,” dijalan apakah kita menikah dinda? Bukankah di jalan dakwah kita dipersatukan. Dan dalam pernikahan suci ini kita pernah berjanji untuk mengutamakan dakwah diatas diri kita. Sungguh mas ga ingin Allah murka pada kita karena pernikahan ini seharusnya menjadikan kita lebih produktif dalam berdakwah, seharusnya lebih meringankan beban dakwah. Pernikahan kita bukanlah pernikahan biasa, dan berbanggalah dengan itu. Tidakkah engkau tahu sesungguhnya berjuang dijalan-Nya lebih kucintai daripada kehidupan di dunia ini, dan kalau bukan dinda yang menegakkan langkah mas, lalu siapa lagi yang bisa mas harapkan.” wajahnya berubah menjadi hangat dan dia memelukku sambil membisikkan kata,”aku mencintaimu karena Allah, dan aku bangga engkaulah yang Allah pilihkan untuk mendampingi hidupku.” Tak terasa air mata ini mengalir begitu derasnya. Rabbi..siapakah dia yang engkau jadikan pengisi hari-hariku, sungguh pantaskah aku mendampinginya, malu ya Allah atas tuntutan ini. Maafkan hamba atas semua rasa yang tumbuh menutupi ketaatanku pada-Mu. Terimakasih untuk segalanya yang Engkau berikan pada hamba. Sungguh hamba tiada pernah kecewa menikahinya dan saksikanlah ya Allah, tiada lagi aku akan memintanya lebih. Aku tau dia tercipta untuk begitu banyak manusia dan beruntunglah aku menjadi orang yang mendampinginya. Jadikanlah pernikahan kami pernikahan yang barokah, dan berkahilah perjalanan hidup kami hingga saatnya kami kembali pada-Mu. ”Katakanlah jika bapak2mu, anak2mu, saudara2mu,istri2mu, keluargamu,harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan rosul-Nya serta berjihad dijalan-Nya maka tunggulah sampai Allah Memberikan keputusan-Nya…” At-Taubah :24